Tampilkan postingan dengan label Protocol Afro. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Protocol Afro. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 Oktober 2017

Ideal result for unideal situation.

Done! Selesai juga drama kegilaan protocol afro sabtu kemarin dengan manis (tanpa manja grup), dimana protocol afro berhasil mengadakan gig pertama di "Negeri Jiran" tepatnya Cyberjaya. Bermula dari ajakan danny (konserku) berkolaborasi membuat konser tunggal protocol afro di Cyberjaya, gw pun mengiyakan ajakan tersebut tanpa ba bi bu. Drama awal dimulai karena tidak semua personil bisa ikut, tapi seperti biasa karena band ini patternnya modular maka posisi Panji (sebagai gitaris) di gig ini bisa digantikan oleh fotografer kami Nico. Lalu kegilaan berlanjut karena sebagian anak2 cukup stress dan protes dengan kegilaan gw langsung mengiyakan membuat konser tunggal di Malaysia. Mereka berpikir siapa juga yang mau datang dan pesimis, bagus kalau yang nonton bisa dapat 5 orang (Hahaha, terlalu pesimis ya). Jujur awalnya sedikit kesal dengar bagaimana pesimisnya anak2, tapi yah kadang dalam hidup dalam 1 tim harus ada yang membuat keputusan-keputusan gila untuk maju. Bukti nyata kemajuan adalah setelah mengambil gig ini akhirnya band bisa berkumpul untuk berlatih (setelah 1 tahun kurang jelas formasi latihannya).

So fast forward ke hari jelang keberangkatan, tiket kita yang sudah pagi (jam 6an) dengan seenaknya digeser oleh penerbangan ke subuh jam 5.30. Waktu jam penerbangan awal, anak2 sudah protes karena pasti bakalan kurang tidur eh ini malah lebih brengsek lagi jadwalnya. Gw sendiri hanya tidur 2 jam karena ada beberapa hal yang perlu dibereskan di hari jumat. Setelah Personil sudah hampir lengkap di airport, ada kejadian "rusuh" pertama: Kristian (drummer) yang harus menjadi korban drama uber. Ubernya tiba2 menghilang dan dia akhirnya sampai di airport jam 5.10 (Logikanya gak bakal bisa masuk karena ini penerbangan internasional).

Keajaiban terjadi karena kami semua serombongan diperbolehkan check in di counter meski Kris terlambat. Meski boleh check in kekhawatiran (Gw as the manajer) belum selesai karena gw harus menunggu Kris di depan gate imigrasi untuk mengoper bukti check innya. Terima kasih kepada autogate imigrasi sehingga Kris tidak perlu antri dan bisa masuk imigrasi dengan mulus. Drama belum selesai disini, Pedal drum Kristian tidak boleh masuk kabin padahal dia selalu membawa pedal drum setiap manggung ke kabin. So di antara harus memperjuangkan pedal tetapi orangnya yang malah tidak bisa berangkat atau let the pedal go, kita mengambil keputusan let it go lah pedalnya (Sambil joget-joget ala frozen, #kidding). Lalu kami berdua pun berlari check in dan menjadi penumpang terakhir yang masuk ke bus dan pesawat.


Sampai di KLCC.

di KL, rombongan pun bertemu Ferdi (keyboardist) yang sudah lebih dulu sampai di KL sehari sebelumnya. Anak2 lalu menaruh barang di Hotel dan makan. Makanannya pas siang menurut anak2 kurang enak ðŸ˜´, gw cukup hoki karena memesan makanan yang netral.

Setelah selesai makan, kita pergi ke cyber jaya tepatnya elemental space untuk check sound. Sudah lama tidak manggung membuat gw as manajer lupa mengupgrade beberapa item di riders sehingga persiapan check sound berjalan molor untuk melengkapi kekurangan-kekurangan item yang dibutuhkan. Check sound berjalan baik di tengah venue yang akustiknya menurut gw sangat tidak ideal. Suara sound sangat memantul terutama suara drum yang terlalu "Menggelegar".

Keadaan venue pada saat check sound

Selesai check sound kami menuju ke suatu tempat untuk mengadakan sesi pemotretan (Ya perjalanan ini memang paket hemat, karena semua hal dilakukan baik Gig sampai pemotretan). Menurut beberapa teman, foto protocol afro sudah lama sekali tidak ada update. Based on hal itu kita menganggap perlu diadakan pembaruan foto. Sesi pemotretan berjalan lancar dan kami pun kembali ke venue untuk menunggu acara dan makan.


 Keadaan pada saat pemotretan


 Cita-citamu mau jadi apa nak? 
diekspresikan dengan plat mobil ini



Band pertama kick off yaitu Fab Jack, mereka membawakan lagu sendiri dan beberapa lagu cover dari foofighters. Musik mereka buat gw Mengingatkan akan semangat-semangat musik masa remaja. Musik mereka seru tetapi akustik ruangan menurut gw sangat buruk sehingga cukup mengganggu dan saat cymbal dipukul frekuensinya menghancurkan frekuensi alat musik yang lain.


Fap Jack in Action

Sekelar band pembuka, Kris tiba-tiba bilang ke gw bahwa dia mau ganti stick drumnya dengan stick drum yang akustik. Gw berpikir brilian juga nih ide kris untuk mengakali akustik ruangan dengan mengganti stick drum, gw pun langsung mengiyakan usulnya. Setelah selesai manggung gw baru tahu bahwa itu sebetulnya "kecelakaan" karena stick drum awal yang dia gunakan jatuh nyelip ke bawah panggung.

Kita pun mulai mengajak penonton bernyanyi dengan Light it up. Mengajak penonton berdansa dengan electrified, music (dance with me) dan streetside, bersantai dengan paris, serta menjadi prihatin dengan lagu Borneo yang bertemakan orang utan.

Kame kame Ha dari Ditto


Nico : Fotografer Protocol Afro yang nyambil jadi gitaris


Sebagian lagu eclipse, lagunya bisa distreaming dispotify , Apple music, Joox and clipnya disini

Mulai lagu ketujuh kami menunjukkan bahwa memang musik inconsistent pop yang diusung protocol afro bukan sekedar gymmick karena kita menggeber dengan setlist yang relatif lebih keras. Owl, dilanjutkan dengan lagu galau tapi indie rock: radio, single terbaru profro : eclipse, lagu pejuang kebebasan : freedom dan The youth sebagai penutup.




Lapar MAK!!



Vokalis kami kurang makan Paramex





Kris dengan pedal drum yang ternyata lebih enak dan Stick drum "Game changer"

Danny "Konserku" Sang promotor mendokumentasikan Protocol afro


Such a great honor bisa memainkan musik Protocol Afro di Malaysia, gw sangat berterima kasih terutama buat Danny dan Konserku yang membantu konser ini bisa terjadi, Juga teman-teman Magic Cyberjaya, Gak lupa Oscar "Sound Consultant" dadakan kita di venue yang terbang jauh-jauh dari Jakarta buat jalan-jalan malah jadi dapat banyak kenalan di Malaysia, dan semua yang datang di Intimate Concert ini, Gw juga spesial berterima kasih kepada 2 penonton yang membeli VIP Tiket I personally really appreciate that support, Hope you enjoy our gift and show.


1st time visit to Malaysia, hopefuly not the last.

Thank you guys, hope to see you again someday. 


Highlight Konser 2 minggu lalu

Lupa... Pesan moral dari perjalanan tour pendek ini:
1. Berangkat lah ke airport 3 jam sebelum take off, kita gak pernah tahu ada drama apa terkait perjalanan kita menuju airport.
2. Tidak pernah ada "hal kecil", Mengubah 1 stick drum benar-benar bisa menjadikan musik yang tadinya soundnya pecah menjadi sound yang sangat baik. Ketiadaan Riders juga bisa membuat waktu checksound menjadi kacau balau.
3. Saat keadaan mulai statis, lakukanlah extra effort agar menimbulkan ombak dan perubahan. Keputusan mengambil gig malaysia adalah kegilaan yang menurut gw diperlukan agar band ini kembali bisa berjalan.

Selasa, 09 Juni 2015

Bagaimana membawa musisi go internasional - acara ngobrol @tempo.co

Acara  Talkshow dimana gw jadi pembicaranya.


Minggu lalu sebelum saya membuat talkshow di daerah Cibinong bersama komunitas studio raka, saya berkesempatan untuk menyaksikam talkshow tempo musik dengan Indra Amenk. Tentunya saya tidak menyia-nyiakan kesempatan ini karena Amenk adalah orang yang berhasil membawa band White Shoes hingga ke 5 benua. Mungkin 1-1nya saat ini di Indonesia yang punya kemampuan seperti ini. Yang menjadi host pada acara ini adalah founder musikator yang merupakan mantan gitaris puppen yaitu bung Robyn. Meskipun datang agak terlambat gw cuma sedikit miss saat performance WSATCC di awal acara.

Berikut beberapa pertanyaan dan rangkuman acara yang berhasil gw tangkap:

1. Apa yg dilakukan seorang manajer sampe diundang berkali2 ke luar negeri?
Mulai dari hal kecil follow up tawaran interview, coba cari contact. Cari venue kecil sambil touring, network ini harus terus diupdate. WSATCC pada awal karier terbantu karena Kerjasama dengan minty fresh records sangat bagus, Promonya serius sekali. 

2. Apakah saat apply Visa bermasalah? 
Repot sebagai dunia ketiga. Biaya untuk  1 grup 2000usd visa kerja, gak boleh visa biasa dan tidak ada jaminan pasti ok. 

3. Cari uang buat tiket gmana pengalaman lo? 
White Shoes modalnya pasti 0, coba cari sponsor dan bahkan hutang ke pihak lain. Permasalahannya adalah kalau sampai sudah diundang lalu gagal muncul, band dari negara kita yang bisa diblack list sama festival sana. 

4. Ini pertanyaan dari gw sendiri ke Amenk. Seberapa efektifkah mengikuti conference di Luar Negeri untuk perkembangan karier band? 
Amenk: efektif sekali. Wsatcc sudah dapat promo dr minty fresh, itu membantu. Menurut Asra WSATCC pernah masuk 20 artist you must see south by south west bahkan berada di bagian tengah halaman koran lokal yang populer. Kuncinya adalah mencari publikasi yang baik sebelum berangkat. 
Pintu pertama yg diketuk oleh WSATCC ya dari sxsw. 

Minty fresh awalnya sempat mundur, menolak ambil WSATCC. Lalu karena kita masuk yahoo music dll baru mereka berani. White shoes masuk ke NY times dan Pitchfork. Review pitchfork yang "galak" lah bisa membantu kita penetrasi pasar luar dengan cepat.



5.Robin kali ini bertanya: Bagaimana cara mengemulate formula wsatcc. 
Amenk malah balik bertanya  "ada yang Mau invest gak?" Cari investor kalo bisa. Investasi ke band bukannya dengan cara ke dahsyat, inbox dll, tp bentuknya lain. Bisa dengan mencari network di negara lain etc. 
Menurut Rio, Amenk menajamkan band dengan mengingatkan bahwa gak cuma musik aja, visualnya jg penting.


6. Apa yang dilihat david tarigan sampe ngambil ke aksara? Dia percaya potensinya ada sesuatu yang gw suka.  Performance dan citra yang ditawarkan, Indonesia banget tapi bisa dinikmati. Sesuatu yang gak dibuat-buat, gak ada di negara mereka tapi bisa dinikmati.
Subpop records nanya ke david apa yang menarik. Biasanya yang gw sodorin tetep ada bau2 indonesianya dan umumnya label-label ini pasti suka. 

7.Bantuan media lokal penting agar bisa penetrasi pasar juga.

8.Teguh Wicaksono bilang berdasarkan pengalamannya waktu kuliah di UK dan banyak berinteraksi dengan orang di sana music sudah pasti harus bagus dan relationshipnya harus kuat. 

9.Ada pertanyaan lain yaitu: Bisa gak sih menghasilkan duit di luar negeri?
Amenk menjawab dengan tegas bisa.

10. Apakah penting kita ngeband dilakukan ke luar? 
Pertanyaannya kita mau ngapain, kalau ngeband? Yang pasti keluar negeri manggung kita akan dapat banyak hal, kaya wawasan dan peluang. Kita orang Indonesia harus tunjukkan bahwa kita pun bisa penetrasi pasar. 

11.Ngakalin biaya? Harus bisa convince orang lain, apa yang lo bawa ada nilainya. Kerjasamalah dengan orang lain, ketok pemerintah, cari endorse. Cari booking agent supaya bisa tour lanjutan. 

Gagal manggung di italia, di expo milano. Undangan dari seorang perancang muda yang akan main untuk mengiringi fashion show dan maen sendiri. Sampai disana, gak ada yg jemput. Gak ada panggung, tidak bisa maen karena tak ada sound system. Banyak juga ternyata Eo yang tidak qualify di luar negeri. 

Dana pemerintah ada, tapi harus ke tangan yang benar. 

Music apa yang bs buat musisinya go international? 
Music adalah refleksi dari si senimannya, cerminan orang yang membawakan atau ada background budaya yg ditampilkan ke orang lain.  Expresi kultur, pengetahuan yang disampaikan pasti sama dengan pembawa musik. Harus ada latbel budaya yg dibawa.  Bjork, Bob marley membawa budaya yang berbeda dan berasal dari Luar amrik.

Julius Manajer Bottlesmoker sang pengantin baru mengajukan pertanyaan:
1.apa lg yang dicari wsatcc sih? Puasa harusnya rekaman, tapi yah biasa itu. Kalo gak yakin sama hasilnya, dipending itu gakpapa. Gak harus on time. Bikin soundtrack, maen di Jeddah. 

2. Pernah gak kejenuhan? Pasti ada. Untungnya kta punya kerjaan masing2, kta sering berbagi lagu dan tuker2 koleksi yg didengarkan oleh masing-masing personil. 

Acara pun diakhiri dengan performance White Shoes yang sudah kita tahu selalu keren. Sampai jumpa di acara musik berikutnya.

Selasa, 04 Maret 2014

Super Week! (Tesis, love garage & The story behind it)

Udah didraft dari Januari baru dipost maret, benar2 kemalasan yang juara -__-'


Minggu yang luar biasa, sidang dan manggung. Awal minggu dibuka dengan sidang tesis. Lolos dengan baik meskipun ada beberapa revisi minor di tesis, not bad lah untuk sesuatu yang dibuat dengan kecepatan kilat. Revisinya sedikit mengganggu jadwal latihan yang sudah sulit ini. Maklum band ini berisi para karyawan dan pegawai yang maha sibuk dengan tingkat kesibukan mengalahkan Bill gates. Revisi Tesis gw sendiri akhirnya selesai pada hari kamis, tepat 1 hari sebelum gw bisa berada 1 panggung dengan salah satu musisi favorit gw Phoenix



Well Its like dream come true, berhasil membuka salah satu musisi favorit yang menjadi idola selama beberapa tahun kebelakang ini. Sebetulnya mendapatkan semua ini seperti biasa tidak berjalan dengan mulus, karena 1 tahun sebelumnya Protocol Afro sempat mencoba mengirimkan beberapa lagu kami kepada ismaya live yang berujung dengan masuknya Protocol Afro sebagai salah satu finalis dalam acara road to love garage yang diadakan dengan nominasi beberapa band.

Well dari semua performancenya memang Polka wars sangat layak menjadi pemenang dan yang menonton tentunya setuju karena meski aura musiknya mereka sangat gloomy, tetapi aransemen dan stage performance mereka bagus sekali.

Check performance mereka di Love garage 2013 Disini

Kegagalan karena mencoba memang tidak sia-sia karena kami dapat tiket untuk menonton Love garage 2013 sebagai salah satu finalis audisi :), well judulnya mencoba memang tidak ada salahnya kan yang penting usaha dan kepala batu :p.

Lalu setelah love garage 2013, kira-kira pada akhir 2013 gw mendapat kabar dari twitter bahwa love garage 2014 akan mendatangkan Phoenix. Seperti biasa saya berkata ke Ferdi keyboardis saya dan Giano duet maut saya sedari bocah pirik: "siap-siap opening nih ya kita." (meskipun seperti biasa prinsip hidup saya ngomong dulu, cara memikirkan & cara mewujudkannya nanti dipikirkan/ mending gak usah ngomong tapi langsung wujudin aja). Setelah itu saya lupa dan tenggelam dalam kesibukan menyelesaikan tesis yang tak kunjung selesai ini. Oiya mengenai tesis terjadi banyak hal-hal absurd seperti deadline yang dipercepat, dan hal-hal lain sehingga cukup membuat saya kurang tidur beberapa hari ke belakang itu,


Di tengah kesibukan tesis ini gw mencoba bertanya informasi beberapa orang mengenai love garage ke Ismaya Live. Pada saat ini Ismaya live sedang sibuk karena mereka sedang memegang acara DWP sehingga untuk acara love garage pada saat itu sedang dipegang oleh Future 10. Pada tahun ini Ismaya live lagi-lagi bekerja sama dengan future 10. Setelah bertanya beberapa hal gw pun mencoba menghubungi pihak yang terkait, terjadi hal yang cukup konyol. Gw masih inget kalau tiba2 di tengah pembicaraan teleponnya mati, terjadi kepanikan pada diri gw karena gw beranggapan bahwa mungkin telepon gw inappropriate ya dan mengganggu sehingga membuat orang memutuskan mematikan telepon ternyata..... baterenya habis (ya ilah bro, udah parno aja) dan pembicaraan mengenai love garage pun berlanjut. Ternyata Protocol Afro masih diingat oleh future10 karena tahun lalu sempat menjadi finalis love garage dan bisa dipertimbangkan untuk menjadi salah satu pengisi acara :). 

Setelah mendengarkan materi terbaru kami, akhirnya kitapun dihubungi oleh future 10 dan diminta untuk konfirmasi. Akhirnya setelah anak-anak Protocol Afro menyatakan konfirmasinya gw pun menghubungi kembali future 10 dan Protocol Afro resmi menjadi salah satu opening band Phoenix. 

Hari-hari terus berganti (Seperti lagu IWAK) dan gw pun sampai ke hari technical meeting. Ternyata baru gw ketahui bahwa Love garage adalah acara besar pertama yang diadakan murni tanpa rokok, cara mendapatkan keuntungan tentunya hanyalah dengan menjual tiket sebanyak-banyaknya. Memang benar ini merupakan acara pertama yang dijalankan murni tanpa rokok dan tetap nekat dijalankan oleh 2 EO ini. (Anyway Java jazz 2014 yang penontonnya membludak dan sangat sukses ternyata masih menggunakan rokok juga sebagai salah satu sponsor, belum senekat Ismaya live dan future 10 mereka :p. Gw pun pulang dan berharap semuanya berjalan dengan lancar dan cuacanya mudah-mudahan cerah, karena beberapa hari ke belakang hujan sering terjadi dan biasanya sangat deras.








H-1 tadinya jikalau memungkinkan kita akan check sound tetapi karena Sound Engineer kami sedang bekerja di tempat lain, serta cuaca yang sangat tidak mendukung akhirnya membuat kita batal check sound dan akan menjalankan plan B sesuai arahan Future 10 bahwa check sound akan dilaksanakan pada hari h. Sampai lah pada hari H kita akan melaksanakan cek sound, akan tetapi belum jelas dimulai jam berapa karena beberapa crew phoenix masih melakukan pengecekan pada arena panggung. Karena tidak ada kejelasan gw pun memutuskan makan di Plaza Indonesia, baru saja selesai tiba2 muncul dering telepon yang menyatakan cek sound sudah mau mulai. Gw pun bergegas menuju TKP untuk mendapati bahwa jalur mic belum dipasang -__-' dan telepon tadi hanyalah merupakan telepon panik...


Kristian di balik drum saat cek sound



Setelah selesai cek sound, gw sejujurnya tidak terlalu ingat dengan detail-detail lain, kecuali setelah cek sound gw mengatur sudut kamera Go pro yang digunakan untuk merekam di panggung. This stuff is cool dan membuat gw ingin membelinya someday hehe. Selepas ini the show begin, dan kita pun memulai memainkan 6 lagu.

Protocol afro @love garage 2014




Setelah selesai manggung dengan excitement yang tinggi kami pun ngobrol-ngobrol dan menantikan dimulainya band idola kami Phoenix. Konser Phoenix berjalan (IMO) sukses karena dengan hujan lebat saat performance phoenix tetapi arena tetap penuh dan penonton tidak beranjak kemana-mana. Performance Phoenix terutama Thomas Mars dan Sang drummer sangat prima dan luar biasa. Thomas mars bahkan tidak segan-segan turun ke bagian depan panggung turut hujan-hujanan dengan penonton. OOT: IMO Thomas Mars ini sepertinya anak IPA ya, karena mengerti prinsip isolator dimana dia menggunakan kain terlebih dahulu baru menyentuh mic sehingga tidak menyetrum tangannya saat sedang hujan-hujanan.

Some moral of the story:
1. Benih itu ditabur,berproses, disiram dan menjadi pohon. Benih yang saya tabur saat audisi Love garage tahun sebelumnya tidak langsung berbuah, ada proses memang, tapi butuh disiram dengan suatu interaksi maka barulah jadi sebuah pohon.
2. Jangan fokus ke hal yang sulit, tetapi ke peluang. Pada saat gw pusing mengerjakan tesis, daripada hanya memikirkan tesis tetapi melupakan peluang lain gw memilih melakukan keduanya sebaik mungkin.
3. Do your best  despite all the circumstances, be like Thomas Mars who sang it very great even in the middle of the rain.
4. Nekat lah, seperti Ismaya Live dan Future 10 yang tetap nekat menjalankan acara meskipun tanpa sponsor rokok. Mereka sebetulnya tidak mendapat safety net masalah keuntungan, tetapi mereka percaya mereka bisa jadilah mereka bisa.
5. Get Up, Stand up, like bob marley said. For some reason we must know that we should try to follow up everything to get some result. In social media era, there is too much distraction and the greatest way for being spotted is show what you got to people. Bukti nyata adalah kegiatan yang dilakukan 1 tahun lalu, memang masih diingat tapi tanpa usaha untuk stand up ya tentunya tidak ada hasil yang didapat.


Well thanks to : Rully, Dadi, Parjo, Armand, Ragil, Ismaya live, Sardes, Future 10, Hogi, Mikhael to make it possible for us :)

Senin, 14 Mei 2012

Dont kill Your Hope, Its about my weekend experience in Music and Football.

Dont kill your hope Mate, yes that's what I want to say to us based on my last weekend experience. It started with my Gigs with Protocol Afro. My vocalist can't make it to the gigs awalnya karena dia harus menjalankan tugas peliputan tentang Sukhoi. Dalam peliputan Sukhoi ini sebetulnya vokalis gw juga mempunyai perasaan duka kaena dua orang temannya turut hilang dalam tragedi tersebut. Di tengah kepusingan ini gw adalah orang yang mencoba tenang dan menganggap yah santai saja semua bisa diurus lah kalau begini, band Sore aja cuek nyanyi ganti-gantian kita juga lah (biarpun kualitasnya cuma sebatas senja).  Keadaan sudah cukup buruk karena dari awal Kristian (Drummer) dan Giano (gitaris) menyatakan sedang tidak bisa ikut manggung karena 1 dan lain hal; ditambah Ditto yang tidak mungkin ikut karena harus bertugas meliput. Pada manggung kali ini  member asli hanya tersisa gw, Ferdi dan Panji saja. Kami dibantu oleh Rully dari Flyafter sebagai Dj/Sequencer serta Ready dari Backwood Sun pada drum. 

Pada hari Jumat saat checksound apa mau dikata ternyata Gitaris gw Panji yang akan naik pangkat (jadi vokalis dadakan bersama gw) terkena demam dan radang tenggorokan karena kehujanan sewaktu berlatih 2 hari sebelum Checksound. Gw mencoba memutar otak, cek sound pun akhirnya kami lakukan berempat saja. Sewaktu mulai mencoba nyanyi 1 lagu mendadak suara gw hilang, dan gw pun mulai panik membayangkan hal terburuk bahwa besok ada dua orang vokalis dadakan yang suaranya hilang. Sepulang dari checksound gw pun beristirahat cepat supaya badan gw recover karena sebetulnya tenggorokan gw agak meradang.

Pagi hari gw mencoba mengakali hilangnya suara gw karena radang dengan membeli jeruk nipis di pasar terdekat, dengan harapan semoga suara gw pulih. Sewaktu mengecek handphone setelah minum jeruk nipis, Panji bilang "Arab ready" dan semua pemikiran gw yang always prepare for the worst pun hilang. Ternyata Ditto tak bisa kehilangan moment manggung di Istora yang langka dan bosnya mengizinkan dia cuti dimana seharusnya dia masuk (What a luck). Setelah menjemput Ditto di rumahnya, bertemu Obon sang videografer & art director kami sejak era awal Protocol Afro; dilanjutkan bertemu Panji di Tiga Negeri kitapun siap berangkat ke Istora: Here we Go!!

Gigs berakhir dengan sukses, Kami membawakan 3 lagu yaitu: Light It Up, Music (Dance with Me) dan The Youth. Cukup singkat memang tapi vokalis kami Ditto seperti biasa menggila seperti Tazmanian Devil di atas panggung dan memenuhi panggung dengan gerakan-gerakan "ajaib" yang sudah menjadi trademarknya kalau bertemu dengan panggung yang besar. Pada akhirnya its all wrap dan berjalan sukses. Menyenangkan juga bertemu dengan teman-teman baru dari Morgen Bis Abend serta bertemu dengan Gugun Blues Shelter. 

Pics By: Egon Saputra



















The story from despair to delirium still continue in my weekend, keesokan harinya kali ini dalam sepakbola, gw sebagai pendukung Manchester City lagi-lagi mengalami perasaan yang sama pada partai terakhir liga inggris. Setelah badan sudah cukup lelah harus ikut pelatihan konsultan di Ciputat sedari pagi-sore dan hanya punya waktu istriahat sebentar saja, gw memutuskan ikut nonton bareng karena ini adalah momen besar bagi tim kesayangan gw yang sayang kalau cuma nonton sendiri doang di rumah. Awalnya semua sepertinya berjalan baik-baik saja sampai Yaya Toure ditarik keluar. bagi gw si "Mr Magic Moment" ini adalah salah satu pilar City yang sangat penting  terbukti dengan seringnya dia menciptakan goal-goal yang krusial bagi city dan dia juga membantu Zabaletta membuat goal dengan assist yang cukup bagus tapi di babak 1 menurut gw permainan City sangat buruk dan di bawah standar.   

Babak kedua mulai lagi dan gw langsung dikejutkan oleh blunder Lescott yang "memberi Assist" kepada Djibril Cisse yang tanpa ampun menghukum city. Lagi-lagi harapan diberikan setelah Joey Barton "rabies" dan mengamuk di lapangan hingga kartu merah diberikan tanpa ragu oleh wasit. Baru saja berharap akan adanya goal tambahan lagi-lagi gw dibuat kaget saat (Pemaen yang mungkin bapaknya jualan mixer soundsytem) Mackie mencetak goal dan membawa QPR unggul 1-2. Pada menit 89 gw mulai ngetweet "Tragicomedy" harapan masih gw simpan tapi yah seperti motto hidup gw Prepare for the worst saja lah daripada kecewa. Pada menit 91 harapan itu muncul melalui Edin Dzeko dan 2 menit kemudian lewat Sergio Aguero semuanya berubah. 

Pesta pun berlangsung di markas anak-anak city di Djoeragan Koffie Tendean. Semua wajah putus asa berubah jadi tawa ceria, lompat-lompat bergembira sampai-sampai sangking hebohnya beberapa gelas jatuh dan pecah -__-' . Mensupport tim yang gak pernah gw harapkan akan menjadi tim yang bisa menjadi juara tapi bisa jadi juara adalah hal yang menyenangkan dan cara mereka mendapatkan sesuatu itu yang membuat gw senang. Gw pribadi menilai mungkin hal ini agak sulit diulangi tapi yah you will never know, There is always the first time kan :)




9 Years without expectation and im happy with the result and process.











- You can try the best you can, the best you can is good enough- Radiohead

-Prepare for the worst but keep trying and dont lose hope, it's not about the result but also about the process.-

Sabtu, 04 Februari 2012

We have faith in our Music

Grup Indie Pendatang Baru, Protocol Afro, Rilis Album Mini Perdana



Itulah salah satu judul artikel website Rolling stone Indonesia yang bahkan dipromosikan ke Detik, kalian mungkin yang belum membacanya bisa melihat artikelnya disini http://rollingstone.co.id/read/2012/02/03/133024/1833420/1093/grup-indie-pendatang-baru-protocol-afro-rilis-album-mini-perdana

Wah akhirnya Protocol Afro sudah dipublikasikan di media nasional juga, gw masih gak percaya melihat band gw sendiri bisa masuk sampe ke website Rolling Stone Indonesia. Dulu di awal pembentukan band dan promosi band, opsi mempromosikan band ke media nasional bukanlah opsi yang gw pilih karena saya merasa menembus media nasional adalah hal yang sulit dan menembus majalah yang satu ini cukup sulit tapi in the end ternyata bisa dilakukan, Thank God.

Sekarang hal lain yang tak kalah penting memfollow up semua ini adalah bagaimana bisa menyelesaikan rekaman dengan baik di tengah kesibukan anak-anak bekerja serta gw sendiri yang akan kuliah dan mungkin mengikuti beberapa pelatihan hukum. Menunda perilisan album bukanlah hal yang bijaksana karena estimasi pertengahan tahun 2012 sudah tercantum di Rolling Stone Indonesia, pasti banyak membutuhkan pengorbanan terutama pengorbanan jam istirahat... Pengorbanan yang dilakukan mungkin lebih banyak lagi tapi gw yakin kita pasti bisa karena I know we have faith on our music.






The Time has come to step out the cage
The first Step may seems a little strange
So what the hell just go make the changes
Light The Fire, Light the Fire!
-Light It Up-

Sabtu, 17 Desember 2011

Where are we now? Special thanks to my Friend

Yes where are we now??????
Itulah pemikiran yang ada hari ini. Awal perjalanan manggung Protocol Afro bermula 1 tahun lalu 17 Desember 2011 perjalanan ini dimulai. Sebelum tanggal tersebut gw meminta tolong salah seorang teman saya yaitu Diana Rikasari untuk membuat artwork yang bisa dijadikan cover single Protocol Afro. Dia membuat satu artwork yang keren menurut gw


Setelah artwork ini jadi, gw sempat melihat Diana mengadakan acara bersama teman-teman bloggernya di mazee (FX). Gw bertanya kepada Die bisa gak Protocol Afro ikut main? Dia bilang Ok bisa diatur lah may, so akhirnya pecah telor juga nih Protocol Afro :).

Kegilaan awal berlangsung pada 15 Agustus 2011 di Global radio, untuk mempromosikan acara Fashion blogger ini pengisi acara dipanggil untuk ikut interview dan akustikan di Radio. Pada hari H ternyata anak2 Protocol Afro sedang sibuk dan cuma gw saja yang ada waktu. Gw berpikir vokalis gw bisa ikut so gw datang dengan membawa gitar, sayang pada akhirnya vokalis gw tidak ikut karena mendapat job dadakan dari tempat kerjanya. Kegilaan pun dimulai, gw ditodong akustikan padahal gw bukan vokalis. Ya nyanyi lah gw on air sejakarta dengan keringat dingin dan nada dasar C Minder....

Mengenai apa yang gw alamin sewaktu manggung pertama bisa dibaca di Tumblr gw (Blog yang lama). The point of my blog post today is:

Dalam hidup semuanya mengalir seperti bola salju, mulailah segala sesuatu dengan hal kecil it will roll bigger and bigger.

Gw berkata begitu karena semua yang gw alami dalam membangun Protocol Afro dimulai dari hal kecil dan semuanya akan membesar dengan sendirinya baik disadari maupun tidak. Siapa yang berpikir dari manggung akustikan di acara fashion blogger berujung ke International gigs dan kemarin Protocol Afro baru saja double manggung di TV Nasional maupun acara kampus (pertama kali buat Protocol Afro) dimulai dari hal kecil yang gw anggap penting. Gw gak pernah peduli dengan pemikiran orang mengenai apa yang gw pikir dan alami, gw cuma fokus saja dengan hal itu dan tujuan akhirnya. Last but not least

Gw mewakili Protocol Afro benar-benar berterima kasih kepada teman kami Diana Rikasari yang membantu kami memulai perjalanan yang menarik ini.Thanks a lot karena bantuan itu adalah awal dari peningkatan kepercayaan diri anak-anak Protocol Afro. I hope I wear Up nantinya akan menjadi brand yang besar dan bisnisnya yang lain pun sukses :)




Our First live Gigs with Music (Dance with me)

Rabu, 16 November 2011

Protocol Afro in my perspective

Siapa bilang penolakan itu harus berakhir dengan kekecewaan? 



Well itulah hal yang gw rasakan setelah menjalani semua hal di band ini. Pada tahun 2007 gw mengumpulkan beberapa teman gw untuk bermusik membawakan lagu arctic monkeys. Giano adalah rekan pertama yang gw ajak, teman baik saya sejak SMP dan hampir ada di setiap band gw. Orang kedua yang diajak adalah Kristian seorang drummer yang gw kenal sebagai pacar dari sahabatnya mantan saya. Nelson teman band2an saya di band yang bernama the bends membawakan lagu2 radiohead. Last but not least Ditto teman saya sejak SMA yang dulu dikenal karena membawakan lagu2 oasis secara fasih, sejujurnya gak pernah lihat langsung sih tapi gw percaya akan kemampuannya dan speaking englishnya yang sempurna karena masa kecilnya dilalui di negeri paman sam.  Pada tahun 2007 kami mengikuti audisi Kulturfest yaitu acara seni anak sastra jerman UI. Pada awalnya kita latihan membawakan lagu Fake tales of San Fransisco dan when the sun goes down. Kami memilih menggunakan lagu kedua untuk mengikuti audisi. Pada akhirnya hasilnya *jreng-jreng* gagal -_-. Yah Kami sudah melakukan yang terbaik dan belum cukup. Kegagalan itu memacu gw secara pribadi bahwa mungkin kita kurang berbakat membawakan lagu cover song waktunya kita membawakan lagu sendiri. 

Sejak saat itu Protocol Afro pun semakin giat berlatih dan mencoba membawakan lagu2 sendiri. Gw masih ingat lagu pertama yang kami bikin judulnya alcoholic dan waiting. Sewaktu masih berproses menyelesaikan lagu terdapat kabar yang kurang menyenangkan bagi gw, gitaris kami Giano akan bekerja di Palembang. Sebagai salah satu otak yang paling kreatif di band dalam song writing, tentunya latihan tanpa giano akan mengurangi kreativitas tetapi kami masih berusaha dan berhasil membuat aransemen 1 lagu lagi yaitu "Bomb/why?" 

Setelah beberapa bulan akhirnya Giano pulang kembali ke Jakarta dan kami kembali bisa berlatih normal (latihan tetap dengan jadwal yang awut2an, minimal sebulan sekali). Pada masa ini kami mulai merekam beberapa lagu yaitu Maling dan Radio dan mulai memixing lagu2 ini di teman kaskus saya yaitu Danang. 

Pada tahun 2009 akhir saya mendapat kabar yang menyenangkan tetapi juga tidak mengenakkan karena saya diterima bekerja di BUMN Pupuk di Palembang. Pekerjaan BUMN adalah impian banyak orang di Indonesia tetapi di sisi lain Gw tahu gw butuh musik sebagai salah satu faktor yang penting di hidup gw. Pada september 2009 pun gw berangkat ke Palembang dan lucunya pada hari gw berangkat Ditto sms gw dan bilang May lagu Radio lagi on air nih di Trax FM, sms singkat yang membuat gw tersenyum simpul agak penasaran saat meninggalkan Jakarta. 

Selama bekerja di Palembang gw sering pulang ke Jakarta dan setiap pulang gw pasti memaksakan untuk latihan ngeband dulu sampai pernah orang rumah agak sebal karena gw pernah dari airport langsung ke studio dulu baru pulang tengah malam ke rumah. Yah kadang kecintaan akan sesuatu bisa membuat kita jadi orang gila hehehe. The brighstide dari selama bekerja di Palembang gw sangat aktif mempromosikan Protocol Afro di Internet sampai2 kita pernah diputar di salah satu radio indie brisbane yaitu traxx radio dan direview di salah satu website Indie rock perancis.Sejak di Palembang gw juga sudah mengintip suatu festival di Singapore yang bernama Baybeats karena di festival ini band indie dari asia sering berpartisipasi bermain disana.Ketiadaan teman ngeband yang sevisi dan seinfluence selama di Palembang membuat gw gagal menemukan "penahan" gw di Palembang.  Puncak keraguan gw bekerja di Palembang terjadi saat bulan juli 2010 Wahyu Nugroho a.k.a Acum Bangkutaman menelpon dan mengajak Protocol Afro untuk berpartisipasi di Traxound yaitu album kompilasi yang berisi band-band indie tanah air terpilih. Hal ini membuat gw kaget pada achievement band ini, padahal gw cuma menganggap seru2an aja saat mempromosikan Protocol Afro. Ternyata kami bisa dapat hal2 yang luar biasa bahkan di saat kami belum pernah manggung. Meskipun gw tahu Protocol afro kemungkinan besar cuma akan jadi side job gw saja tetapi I know l love this band and i want to give my best buat side job gw. Pada akhirnya bulan september 2010 gw mengajukan resign dan i said hello Jakarta sekali lagi and im back for good :). 

Pulang ke Jakarta belum ada kerjaan tetap tapi musik masih jadi salah satu energi terbesar gw dalam beraktifitas. Kegiatan-kegiatan tergila yang pernah gw lakukan karena musik salah satunya bernyanyi sendirian on air di sebuah radio karena band gw mendapat tawaran interview mendadak di sebuah radio. Karena terlalu mendadak, anak2 tidak ada yang confirm dan gw sudah datang sendiri di Radio tersebut. Alhasil gw ditodong bernyanyi secara on air, nekat memang tapi yah sudahlah pengalaman gila ini memang tak bisa dibeli.. Pengalaman radio interview ini adalah radio interview pertama Protocol Afro menjelang gigs pertama kami. Gigs pertama Protocol Afro kami dapat dari teman kami Fashion blogger merangkap businesswoman Diana Rikasari. Dia pernah merancang artwork single kami dan akhirnya membantu kami mendapatkan gigs pertama kami di FX yang berlangsung secara akustik. Gigs pertama berjalan "rusuh" karena gitaris yang datang cuma satu, sementara gitaris yang satu terjebak kemacetan. Meskipun begitu performance kami tetap berjalan baik dan tidak mengecewakan.  

Setelah gigs pertama gw mengikuti acara2 seminar musik indie sambil mencari network baru. Kegiatan ini mengantarkan gw mendapatkan gigs di acara Mugall 2011. Well panggung kedua kami sudah bisa satu acara dengan Leonardo, santa monica, Pure Saturday, Gugun blues shelter sudah menjadi kebanggaan bagi kami :).   

Well the rest of it is mistery, and I hope this side job could make a great history :). Siapa yang pernah berpikir kenekatan gw untuk "berdarah-darah" mempertahankan band ini yang menurut orang-orang mau ngapain juga sih dipertahanin ternyata bisa membawa Kami keluar negeri di manggung kami yang keempat? Review kami di manggung tersebut ada di sini 




Buat gw pribadi pertolongan Tuhan buat gw selalu datang tepat waktu, kadang2 mungkin orang akan bilang "Ngapain lo pertahanin orang2 yang gak punya komitmen?" atau "Sudah 3 Tahun punya band gak pernah manggung?". In the end kalaupun gw lagi emosi atau muak dengan keadaan yang gak menguntungkan yah gw yakin Tuhan lah yang nguatin gw untuk bertahan dalam keadaan itu karena Mayo yang sebenarnya gak mungkin betah kaya gitu. 


If you feel God spoken to you and He said believe in it, just keep the faith. You know when the time has come, You will be the most happiest person in the world because God is giving the right advice for you to achieve your Dreams.




Buat gw ada 3 hal yang menjadi inti perjalanan ini:


Impossible Is Nothing
Gal 6:7 For whatsoever a man soweth, that shall he also reap.
Heb 11:1 Now Faith is the substance of things hoped for, the evidence of things not seen.


PS: Gw sudah pernah bilang ke Giano waktu SMA dan lagi Maen WE: "No,someday kita akan manggung di luar negeri." dan dijawab sama giano dengan muka bingung, Gw percaya akan hal itu dan mengimani hal tersebut. Meskipun berliku-liku dan butuh 10 Tahun akirnya Kita bisa :)

Senin, 07 November 2011

5 November 2011: The Rock & Roll Day - Weekend rockstar notes :p

Wah akhirnya sudah pulang juga gw ke Jakarta setelah melakukan perjalanan "super kilat" ke Bali. Gw sebut super kilat karena gw hanya menginjakkan kaki di bali selama 12 Jam saja, dan gilanya adalah selama disana gw tidur yah cuma 15 menit saja :p untung saja sampai hari senin ini kondisi fisik saya masih sehat-sehat saja :).

5 November 2011, dimulai dengan bangun subuh-subuh kira-kira jam 3 pagi untuk melanjutkan belajar ujian advokat. Setelah belajar sampai pagi, langsung menuju UKI untuk mengerjakan ujian. Ujian terbagi dalam dua sesi. Pada ujian pertama semuanya gw selesaikan dalam waktu 1jam 30 menit dari durasi 2jam. 30 menit sisanya ngapain? ya tidur, karena kepala sudah berat banget dan niat untuk memeriksa ujiannya lagi sudah berkurang. Yang harus gw lakukan adalah tidur, Karena harus menyimpan tenaga dengan agenda yang sangat padat. Ujian sesi satu pun berakhir lalu sampailah kepada waktu istirahat. Akhirnya gw keluar kelas dan secara tak sengaja ketemu dengan beberapa teman kampus seperti Dambon dan Dora yang juga ikut ujian. Setelah 30 menit berlalu, ujian sesi kedua pun dilanjutkan.  Gw sudah menyelesaikan ujian tepat pada pukul 1 dengan harapan bisa cepat keluar dari lokasi. Sedikit panik karena tiket pesawat gw itu harusnya take off jam 2.45, sedangkan jam 1 an masih berada di UKI. Gw agak panik karena pengawasnya lamban sekali dalam mengumpulkan soal. Setelah pengawas selesai menjalankan tugas, akhirnya gw bisa berangkat dari UKI dan tiba di airport Soetta  jam 2.10.

Sesampainya di Soetta gw pun bertanya ke Penjaga counter tiket, dia bilang pesawatnya tidak delay. Tersenyum simpul gw pun langsung melesat ke ruang tunggu dan menemukan fakta kalau itu hanya omongan kosong saja :jitakpala: . Pesawatnya delay dan baru berangkat jam 3.45 sedangkan gw harus hadir di venue konser di Nusa dua jam 7. Yah gw berdoa saja agar semuanya lancar-lancar karena gw yakin pertolongan Tuhan pasti on time, tidak kecepatan dan tidak terlambat. Selama di pesawat gw sama sekali tidak bisa tidur karena sangat excited sekali akhirnya cita-cita gw yang lain dikabulkan sang Pencipta :). Setelah manggung di singapore, dalam hitungan bulan Tuhan ngasih gw peluang manggung di Bali di acara Asean Fair ini dimana kami gak apply sama sekali untuk maen di acara ini. That is why i call this show is God Gift buat band gw; dan gw gak mau performance kami mengecewakan.

Sesampainya di Bali sudah pukul 18.40 WITA gw hanya berpikir bagaimana caranya sampai di venue on time dan bisa bermain maksimal. Jangan berharap penyambutan yang meriah dan dijemput dengan  mobil ya karena gw dijemput oleh motor panitia :D,  sebetulnya hal ini sudah gw pikirkan waktu di Jakarta sebagai plan A karena ini adalah opsi yang paling bagus dalam menghindari kemacetan. Request gw dalam otak ternyata benar2 dijawab Tuhan . Gw dijemput oleh LO yang bernama Made: anak Udayana yang baru lulus dan saat ini masih nyambil2 bekerja di acara ini sembari mencari pekerjaan yang tetap. well God bless you Made, semoga Tuhan memberi pekerjaan yang pas untuk anda setelah rangkaian acara Asean Fest ini. Sewaktu di tengah jalan sempat hujan sesaat, si Made pun sempat khawatir dan bilang: "Wah mas Mayo bakal hujan nih mau keluarin jas hujan dulu gak?" Dengan pede dan penuh keyakinan gw bilang: "Gak hujan ini cuma sebentar saja hujannya, yakin saja." dalam Hitungan detik hujannya pun berhenti dan gw malah bingung sendiri karena omongan gw kok bisa2nya ya kejadian lagi.

Kurang lebih 30 menit berlalu dan gw pun sampai di Peninsula Island Nusa Dua venue Hallo Asean Fair :). Panggungnya jauh lebih besar daripada panggung besar gw yang terakhir yaitu baybeats di Esplanade, juga dilengkapi display LED yang super keren. Sesampainya disana gw pun bertemu EOnya dan bertemu dengan anak-anak yang lain. Mereka kecewa karena soundchecknya sangat buruk, yah maaf ya teman-teman saya lupa briefing lagu kita ke stage manajer bung Ijul sehingga Soundcheck kurang bagus, my bad. Sesampai disana gw menonton teman kami yang meremix lagu Protocol Afro yaitu Riot !n Magenta duo electrosoul dari Singapore. Performance mereka sangat keren menurut gw, suara vokalis Eugenia Yip yang soul sedikit mirip kombinasi Joss Stone & Fionna Aple dipadu dengan programming dan Gitar dari Hayashida Ken berhasil membuat saya terkagum-kagum :).

Setelah Riot !n Magenta tibalah giliran kami Protocol Afro! Akhirnya kamipun perform didukung oleh visual LED yang sangat maksimal dibuat oleh gitaris kami Panji Prasetyo. Menurut gw: ini adalah manggung gw yang paling gila dimana gw dalam kondisi fisik yang gak normal tidur hanya 4 jam, habis terbang dan langsung manggung tapi bisa jumpalitan dan lompat-lompatan di panggung. Setelah selesai manggung kami beristirahat sejenak di backstage dan terjadi musibah. Gitaris kami Panji terjatuh dari panggung, lumayan tinggi 2 meter. Yang paling keren adalah omongan pertamanya setelah jatuh "Gitar gw gakpapa kan?" Youre the real rockstar mate :D. Banyak kejadian aneh memang hari ini, setelah pagi-pagi Videografer kami Obon dicopet di damri ditambah lagi dengan kejadian ini... Yang terpenting gitaris gw tidak terluka parah.

Setelah kelar membawa panji ke poliklinik emergency, Anak-anak Protocol Afro memutuskan untuk menonton agrikulture sekilas. Kami sangat terhibur dengan aksi-aksi mereka karena mereka bisa membuat panggung jadi meriah :). Setelah menonton beberapa lagu kami memutuskan pulang dan mencari makan karena Panji memang butuh istirahat dan makanan untuk memulihkan bahunya. Setelah menaruh alat-alat di Hotel kami memutuskan untuk makan nasi pedas sejenak di daerah Kuta, dan kembali ke hotel untuk beristirahat. Setelah anak-anak berkumpul di hotel semuanya pun berkumpul dan banyak mengobrol, hingga akhirnya cuma tersisa gw, Ijul, Obon dan Kristian yang ngobrol di beranda hotel karena yang lain sudah tumbang atau langsung masuk ke kamar masing 2 untuk tidur. Pada akhirnya Arab juga kembali masuk ke dalam forum obrolan karena dia tidak bisa tidur. Malam panjang ini diisi segala macam obrolan anak-anak protocol afro yang masih bangun mulai dari jamur, musik, freemason, politik, lawak dan lain-lain. Tak sadar waktu sudah menunjukkan pukul 4:30 pagi dan gw memutuskan tidur sejenak sebelum jalan ke airport karena kita harus berangkat jam 5 pagi. Well 12 jam waktu gw di Bali sudah dimaksimalisasi penggunaannya well thanks Bali and thanks to 7evenotes (Event organizer acara ini, thanks juga Mbak Mia buat kesempatannya), Hello Asean, and last but not least God Almighty for the great oportunity that you gave to us. 3 Tahun perjuangan gw membantu Protocol Afro untuk diterima akhirnya berbuah manis dengan perjalanan-perjalanan yang menyenangkan :)

Thanks to Giano, Kristian, Ditto, Panji, Ferdi, Rima, Danang, Ijul, Obon yang sudah bersama-sama ke Bali. What a great journey buat gw pribadi :)

Jumat, 30 September 2011

Tidak Mampu atau tidak mau? Speak up your Ideas!!

"gak mampu gw!", "ah gak bisa gw!" alasan klasik yang sering kita dengar di lingkungan kita, dan gw merasa hal ini adalah tanda bahwa kita membatasi diri kita untuk mendapatkan suatu peluang. Gw mau mencoba membagikan pengalaman gw pribadi tentang skill dan kadang pentingnya kita membicarakan apa yang ada di otak kita meskipun hal itu kita lakukan secara tidak langsung.

Biasanya gw dengan band gw Protocol Afro manggung dengan formasi yang kurang lebih sama, yaitu 2 orang additional: 1 keyboardist dan 1 gitaris. Pada suatu kesempatan keyboardist gw merasa sepertinya dia tidak bisa untuk ikut serta dalam manggung itu karena untuk panggung yang ini  perlu cuti paling tidak 1 hari, alhasil gw sedikit pontang-panting mencari keyboardist pengganti. Dapatlah satu teman yang akan menjadi additional pengganti, skill bermusik ok dan adaptasinya bagus tetapi dia pada akhirnya tidak bisa ikut membantu kami karena ada masalah yang harus dibereskan. 

Pada saat itu gw teringat ada teman yang pernah memasang gambar Esplanade sebagai profile pics BBMnya. Gw pun berpikir, kalau orang ini udah majang gambar ini, secara tidak langsung dia punya impian dan kemauan untuk bermain disana dan gw yakin dia akan melakukan yang terbaik. Akhrinya gw menghubungi teman gw tersebut Yaitu Ferdi salah satu orang yang bertanggung jawab di balik band Soulflou. Pada latihan pertama memang terlihat secara skill keyboardist aditional gw yang lain secara teknis jauh lebih baik, tapi keinginan dia untuk melakukan yang paling ok dengan keterbatasan skill yang dimiliki menghasilkan output yang keren. Long story short yah akhirnya kita pun berhasil manggung di Baybeats 2011 yang diadakan di esplanade dengan sukses dan buat Gw keputusan gw mengajak Ferdi hanya karena gambar Esplanade ternyata tepat bahkan dia juga melakukan hal-hal kreatif yang bahkan oleh songwriter band gw sendiri tidak terlintas untuk dilakukan. By the way sekalian promo juga, kalian bisa lihat review Protocol Afro disini ya Review Protocol Afro at Baybeats 



Moral of the story buat gw: Keterbatasan skill tuh bukan halangan dalam melakukan apapun, kalau jadi orang cuma minderan aja mah gak akan pernah maju. Selain itu kalau punya ide atau harapan share lah hal itu ke dunia, You'll never know how God can help you to achieve it.