Tampilkan postingan dengan label Music. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Music. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 Oktober 2017

Ideal result for unideal situation.

Done! Selesai juga drama kegilaan protocol afro sabtu kemarin dengan manis (tanpa manja grup), dimana protocol afro berhasil mengadakan gig pertama di "Negeri Jiran" tepatnya Cyberjaya. Bermula dari ajakan danny (konserku) berkolaborasi membuat konser tunggal protocol afro di Cyberjaya, gw pun mengiyakan ajakan tersebut tanpa ba bi bu. Drama awal dimulai karena tidak semua personil bisa ikut, tapi seperti biasa karena band ini patternnya modular maka posisi Panji (sebagai gitaris) di gig ini bisa digantikan oleh fotografer kami Nico. Lalu kegilaan berlanjut karena sebagian anak2 cukup stress dan protes dengan kegilaan gw langsung mengiyakan membuat konser tunggal di Malaysia. Mereka berpikir siapa juga yang mau datang dan pesimis, bagus kalau yang nonton bisa dapat 5 orang (Hahaha, terlalu pesimis ya). Jujur awalnya sedikit kesal dengar bagaimana pesimisnya anak2, tapi yah kadang dalam hidup dalam 1 tim harus ada yang membuat keputusan-keputusan gila untuk maju. Bukti nyata kemajuan adalah setelah mengambil gig ini akhirnya band bisa berkumpul untuk berlatih (setelah 1 tahun kurang jelas formasi latihannya).

So fast forward ke hari jelang keberangkatan, tiket kita yang sudah pagi (jam 6an) dengan seenaknya digeser oleh penerbangan ke subuh jam 5.30. Waktu jam penerbangan awal, anak2 sudah protes karena pasti bakalan kurang tidur eh ini malah lebih brengsek lagi jadwalnya. Gw sendiri hanya tidur 2 jam karena ada beberapa hal yang perlu dibereskan di hari jumat. Setelah Personil sudah hampir lengkap di airport, ada kejadian "rusuh" pertama: Kristian (drummer) yang harus menjadi korban drama uber. Ubernya tiba2 menghilang dan dia akhirnya sampai di airport jam 5.10 (Logikanya gak bakal bisa masuk karena ini penerbangan internasional).

Keajaiban terjadi karena kami semua serombongan diperbolehkan check in di counter meski Kris terlambat. Meski boleh check in kekhawatiran (Gw as the manajer) belum selesai karena gw harus menunggu Kris di depan gate imigrasi untuk mengoper bukti check innya. Terima kasih kepada autogate imigrasi sehingga Kris tidak perlu antri dan bisa masuk imigrasi dengan mulus. Drama belum selesai disini, Pedal drum Kristian tidak boleh masuk kabin padahal dia selalu membawa pedal drum setiap manggung ke kabin. So di antara harus memperjuangkan pedal tetapi orangnya yang malah tidak bisa berangkat atau let the pedal go, kita mengambil keputusan let it go lah pedalnya (Sambil joget-joget ala frozen, #kidding). Lalu kami berdua pun berlari check in dan menjadi penumpang terakhir yang masuk ke bus dan pesawat.


Sampai di KLCC.

di KL, rombongan pun bertemu Ferdi (keyboardist) yang sudah lebih dulu sampai di KL sehari sebelumnya. Anak2 lalu menaruh barang di Hotel dan makan. Makanannya pas siang menurut anak2 kurang enak ðŸ˜´, gw cukup hoki karena memesan makanan yang netral.

Setelah selesai makan, kita pergi ke cyber jaya tepatnya elemental space untuk check sound. Sudah lama tidak manggung membuat gw as manajer lupa mengupgrade beberapa item di riders sehingga persiapan check sound berjalan molor untuk melengkapi kekurangan-kekurangan item yang dibutuhkan. Check sound berjalan baik di tengah venue yang akustiknya menurut gw sangat tidak ideal. Suara sound sangat memantul terutama suara drum yang terlalu "Menggelegar".

Keadaan venue pada saat check sound

Selesai check sound kami menuju ke suatu tempat untuk mengadakan sesi pemotretan (Ya perjalanan ini memang paket hemat, karena semua hal dilakukan baik Gig sampai pemotretan). Menurut beberapa teman, foto protocol afro sudah lama sekali tidak ada update. Based on hal itu kita menganggap perlu diadakan pembaruan foto. Sesi pemotretan berjalan lancar dan kami pun kembali ke venue untuk menunggu acara dan makan.


 Keadaan pada saat pemotretan


 Cita-citamu mau jadi apa nak? 
diekspresikan dengan plat mobil ini



Band pertama kick off yaitu Fab Jack, mereka membawakan lagu sendiri dan beberapa lagu cover dari foofighters. Musik mereka buat gw Mengingatkan akan semangat-semangat musik masa remaja. Musik mereka seru tetapi akustik ruangan menurut gw sangat buruk sehingga cukup mengganggu dan saat cymbal dipukul frekuensinya menghancurkan frekuensi alat musik yang lain.


Fap Jack in Action

Sekelar band pembuka, Kris tiba-tiba bilang ke gw bahwa dia mau ganti stick drumnya dengan stick drum yang akustik. Gw berpikir brilian juga nih ide kris untuk mengakali akustik ruangan dengan mengganti stick drum, gw pun langsung mengiyakan usulnya. Setelah selesai manggung gw baru tahu bahwa itu sebetulnya "kecelakaan" karena stick drum awal yang dia gunakan jatuh nyelip ke bawah panggung.

Kita pun mulai mengajak penonton bernyanyi dengan Light it up. Mengajak penonton berdansa dengan electrified, music (dance with me) dan streetside, bersantai dengan paris, serta menjadi prihatin dengan lagu Borneo yang bertemakan orang utan.

Kame kame Ha dari Ditto


Nico : Fotografer Protocol Afro yang nyambil jadi gitaris


Sebagian lagu eclipse, lagunya bisa distreaming dispotify , Apple music, Joox and clipnya disini

Mulai lagu ketujuh kami menunjukkan bahwa memang musik inconsistent pop yang diusung protocol afro bukan sekedar gymmick karena kita menggeber dengan setlist yang relatif lebih keras. Owl, dilanjutkan dengan lagu galau tapi indie rock: radio, single terbaru profro : eclipse, lagu pejuang kebebasan : freedom dan The youth sebagai penutup.




Lapar MAK!!



Vokalis kami kurang makan Paramex





Kris dengan pedal drum yang ternyata lebih enak dan Stick drum "Game changer"

Danny "Konserku" Sang promotor mendokumentasikan Protocol afro


Such a great honor bisa memainkan musik Protocol Afro di Malaysia, gw sangat berterima kasih terutama buat Danny dan Konserku yang membantu konser ini bisa terjadi, Juga teman-teman Magic Cyberjaya, Gak lupa Oscar "Sound Consultant" dadakan kita di venue yang terbang jauh-jauh dari Jakarta buat jalan-jalan malah jadi dapat banyak kenalan di Malaysia, dan semua yang datang di Intimate Concert ini, Gw juga spesial berterima kasih kepada 2 penonton yang membeli VIP Tiket I personally really appreciate that support, Hope you enjoy our gift and show.


1st time visit to Malaysia, hopefuly not the last.

Thank you guys, hope to see you again someday. 


Highlight Konser 2 minggu lalu

Lupa... Pesan moral dari perjalanan tour pendek ini:
1. Berangkat lah ke airport 3 jam sebelum take off, kita gak pernah tahu ada drama apa terkait perjalanan kita menuju airport.
2. Tidak pernah ada "hal kecil", Mengubah 1 stick drum benar-benar bisa menjadikan musik yang tadinya soundnya pecah menjadi sound yang sangat baik. Ketiadaan Riders juga bisa membuat waktu checksound menjadi kacau balau.
3. Saat keadaan mulai statis, lakukanlah extra effort agar menimbulkan ombak dan perubahan. Keputusan mengambil gig malaysia adalah kegilaan yang menurut gw diperlukan agar band ini kembali bisa berjalan.

Selasa, 09 Juni 2015

Bagaimana membawa musisi go internasional - acara ngobrol @tempo.co

Acara  Talkshow dimana gw jadi pembicaranya.


Minggu lalu sebelum saya membuat talkshow di daerah Cibinong bersama komunitas studio raka, saya berkesempatan untuk menyaksikam talkshow tempo musik dengan Indra Amenk. Tentunya saya tidak menyia-nyiakan kesempatan ini karena Amenk adalah orang yang berhasil membawa band White Shoes hingga ke 5 benua. Mungkin 1-1nya saat ini di Indonesia yang punya kemampuan seperti ini. Yang menjadi host pada acara ini adalah founder musikator yang merupakan mantan gitaris puppen yaitu bung Robyn. Meskipun datang agak terlambat gw cuma sedikit miss saat performance WSATCC di awal acara.

Berikut beberapa pertanyaan dan rangkuman acara yang berhasil gw tangkap:

1. Apa yg dilakukan seorang manajer sampe diundang berkali2 ke luar negeri?
Mulai dari hal kecil follow up tawaran interview, coba cari contact. Cari venue kecil sambil touring, network ini harus terus diupdate. WSATCC pada awal karier terbantu karena Kerjasama dengan minty fresh records sangat bagus, Promonya serius sekali. 

2. Apakah saat apply Visa bermasalah? 
Repot sebagai dunia ketiga. Biaya untuk  1 grup 2000usd visa kerja, gak boleh visa biasa dan tidak ada jaminan pasti ok. 

3. Cari uang buat tiket gmana pengalaman lo? 
White Shoes modalnya pasti 0, coba cari sponsor dan bahkan hutang ke pihak lain. Permasalahannya adalah kalau sampai sudah diundang lalu gagal muncul, band dari negara kita yang bisa diblack list sama festival sana. 

4. Ini pertanyaan dari gw sendiri ke Amenk. Seberapa efektifkah mengikuti conference di Luar Negeri untuk perkembangan karier band? 
Amenk: efektif sekali. Wsatcc sudah dapat promo dr minty fresh, itu membantu. Menurut Asra WSATCC pernah masuk 20 artist you must see south by south west bahkan berada di bagian tengah halaman koran lokal yang populer. Kuncinya adalah mencari publikasi yang baik sebelum berangkat. 
Pintu pertama yg diketuk oleh WSATCC ya dari sxsw. 

Minty fresh awalnya sempat mundur, menolak ambil WSATCC. Lalu karena kita masuk yahoo music dll baru mereka berani. White shoes masuk ke NY times dan Pitchfork. Review pitchfork yang "galak" lah bisa membantu kita penetrasi pasar luar dengan cepat.



5.Robin kali ini bertanya: Bagaimana cara mengemulate formula wsatcc. 
Amenk malah balik bertanya  "ada yang Mau invest gak?" Cari investor kalo bisa. Investasi ke band bukannya dengan cara ke dahsyat, inbox dll, tp bentuknya lain. Bisa dengan mencari network di negara lain etc. 
Menurut Rio, Amenk menajamkan band dengan mengingatkan bahwa gak cuma musik aja, visualnya jg penting.


6. Apa yang dilihat david tarigan sampe ngambil ke aksara? Dia percaya potensinya ada sesuatu yang gw suka.  Performance dan citra yang ditawarkan, Indonesia banget tapi bisa dinikmati. Sesuatu yang gak dibuat-buat, gak ada di negara mereka tapi bisa dinikmati.
Subpop records nanya ke david apa yang menarik. Biasanya yang gw sodorin tetep ada bau2 indonesianya dan umumnya label-label ini pasti suka. 

7.Bantuan media lokal penting agar bisa penetrasi pasar juga.

8.Teguh Wicaksono bilang berdasarkan pengalamannya waktu kuliah di UK dan banyak berinteraksi dengan orang di sana music sudah pasti harus bagus dan relationshipnya harus kuat. 

9.Ada pertanyaan lain yaitu: Bisa gak sih menghasilkan duit di luar negeri?
Amenk menjawab dengan tegas bisa.

10. Apakah penting kita ngeband dilakukan ke luar? 
Pertanyaannya kita mau ngapain, kalau ngeband? Yang pasti keluar negeri manggung kita akan dapat banyak hal, kaya wawasan dan peluang. Kita orang Indonesia harus tunjukkan bahwa kita pun bisa penetrasi pasar. 

11.Ngakalin biaya? Harus bisa convince orang lain, apa yang lo bawa ada nilainya. Kerjasamalah dengan orang lain, ketok pemerintah, cari endorse. Cari booking agent supaya bisa tour lanjutan. 

Gagal manggung di italia, di expo milano. Undangan dari seorang perancang muda yang akan main untuk mengiringi fashion show dan maen sendiri. Sampai disana, gak ada yg jemput. Gak ada panggung, tidak bisa maen karena tak ada sound system. Banyak juga ternyata Eo yang tidak qualify di luar negeri. 

Dana pemerintah ada, tapi harus ke tangan yang benar. 

Music apa yang bs buat musisinya go international? 
Music adalah refleksi dari si senimannya, cerminan orang yang membawakan atau ada background budaya yg ditampilkan ke orang lain.  Expresi kultur, pengetahuan yang disampaikan pasti sama dengan pembawa musik. Harus ada latbel budaya yg dibawa.  Bjork, Bob marley membawa budaya yang berbeda dan berasal dari Luar amrik.

Julius Manajer Bottlesmoker sang pengantin baru mengajukan pertanyaan:
1.apa lg yang dicari wsatcc sih? Puasa harusnya rekaman, tapi yah biasa itu. Kalo gak yakin sama hasilnya, dipending itu gakpapa. Gak harus on time. Bikin soundtrack, maen di Jeddah. 

2. Pernah gak kejenuhan? Pasti ada. Untungnya kta punya kerjaan masing2, kta sering berbagi lagu dan tuker2 koleksi yg didengarkan oleh masing-masing personil. 

Acara pun diakhiri dengan performance White Shoes yang sudah kita tahu selalu keren. Sampai jumpa di acara musik berikutnya.

Kamis, 14 November 2013

Tetap berjalan

https:


Dave Grohl berpikir bahwa memulai sesuatu dari hal yang tidak dianggap penting oleh orang lain pada akhirnya bisa membuat sesuatu yang besar. "Berbuat bodoh"lah bersama teman-temanmu dan yang penting tetap berjalan. Pada akhirnya anda tak pernah tahu hal yang anda cintai membawamu ke tempat yang tak pernah kau bayangkan sebelumnya.

Jumat, 28 Juni 2013

Saran kalau mau submit musik

Ini ada postingan menarik dari http://www.yabyumaz.com/ tapi karena kalo diretweet linknya gak bisa keluar jadi gw reblog aja.

At this point in our not entirely illustrious career we receive a decent amount of music submissions every week. We try to check out each and every one that comes into us. Well, almost. Occasionally, we'll just skip right past one and it's usually because the words "MAJOR ARTIST SUBMISSION" are in the subject line. That's my pet peeve. That right there, all in caps announcing that a major artist is about drop some heavy shit on my ears right now. There seem to be a couple of hiphop / indie labels who have adopted this approach for some god-unknown reason much to my dismay.

I started to wonder what really gets to other music writers and how this knowledge might benefit bands. I then reached out to some of rad local music journalists for their personal pet peeves and suggestions for bands ready to enter the Submit-To-Press phase of their musical careers. Thanks to Jason Woodbury, Dee Wallace, Nicole Parasida, Troy Farah, and everyone else who took some time to share their suggestions!

Dee Wallace, The Spec

"I think my personal suggestion for all up-and-coming bands is to set up websites and/or social media accounts. It seems like a big "duh," but a lot of these newer bands do not have websites or social media accounts, or are inactive on the sites and accounts they've created.

I think it's an asset for any artist to have an online presence in 2013. The Internet is this massive network that makes it easy to reach, and interact with, a broader audience. At The Spec, we're less inclined to cover bands that do not have websites or social media accounts because, as an online publication, we need to be able to link our readers to the artist we're sharing." 

Nicole Parasida, EchoCloud

1. They clearly do not even read our blog based on the email they send.

2. I get emails from friends/fans of bands with no links. They should provide all the links - don't make me work.

3. We have a song of the week, video of the week, we cover events, host events. Often people submit things to us with no specific purpose. I prefer them tell me what they want.

4. Constantly sending me correspondence either via email, Facebook or both.

5. Posting their music on my personal Facebook page or contacting me through Facebook. There is a reason my contact info is all over echo cloud, I can't track these things through Facebook. Besides that I am a real person outside of EchoCloud so I'd prefer people not spam my personal page. This also goes for excessive tagging on Facebook for promotions. If we are friendly with each other (meaning we are on first name basis face to face) that's one thing but if I barely know you it's probably not cool to tag me on Facebook for your band promo stuff.

6. General lack of professionalism. 

7. My biggest pet peeve is when people do not share our posts that we write about them. It takes 2 seconds to share and it makes a big difference in terms of our reach and people going to our site. It kills me when people ask us to post their content and do not show the least little bit of reciprocity. It's rude and certainly doesn't make me care about ever posting about them again. We don't get paid to do this, the least you could do is share it.

Jason Woodbury, New Times / Tiny Mix Tapes / Aquarium Drunkard

Don’t: Ever write “[insert classic band] had a lovechild with [insert contemporary band] and that child grew up and jammed with [insert weird/offbeat musical reference here]” in your bio. In fact, don’t include any variation of this formula, no matter how funny or charming. Don’t ever say “lovechild” in a press release.

But especially don’t: Call your band “delicious” or any word you might use to describe food.

But most of all don’t: Say “eargasm.” Ever. It’s never been cool to say “eargasm” and it never will be.

Do: Include names of bands you've toured with, played shows with, or have legitimate connections with.

Don’t: Include bands that no one’s ever heard of though. Because duh.

Do: Include something really condescending like “I know your blog doesn't normally cover stuff as awesome as the music we make, but we thought we’d toss it at you in case you feel like pulling your head out of your ass and getting REAL down.”
But only if: Your band is really good. Like, the best band, and you like confrontation.

Don’t: Send a physical CD. Send a download link. Make a Bandcamp site with art, that way you don’t have to sacrifice the graphic element of your aesthetic.
Unless, of course: You’re reasonably certain that the person you’re sending a physical item to will be really into it. Maybe they told you they wanted it. In that case, by all means, send a cool thing. Maybe a cassette if you know they have a tape deck. Vinyl, if that’s what they’re into. But do your best to make sure that your item (and by extension, the money you spent making it) isn't going to end up in a big pile of stuff that will have to be given to Goodwill when that writer moves.

Do: Be personable. But don’t kiss anyone’s butt.

Don’t: Ever be bothered by what a critic says about you, unless you agree with what they said. Don’t decide whether you agree or disagree right away. Think about it a little. Or don’t. Go with your gut on this one.
Eargasm? Really? Pass.

Do: Send a polite follow-up email reminding someone that you sent them something. Wait a minute to do it though, and remember that they get a lot of stuff. Be persistent but don’t nag. I can’t explain exactly how to do this, but you know what I mean, right?

Don’t: Take it personally if a person doesn't want to write about your band. Keep being the band you want to be. If you are a good band, there’s a writer out there into what you do. Don’t be upset that the lady or guy writing about about noise music or EDM or free jazz doesn't want to write about [your] acoustic reggae band or hardcore outfit.

Do: Read the site/publication/blog that you’re sending your stuff to. Read it real hard.

Don’t: Ask someone to do you a “favor” and write about you. That’s insulting. To the writer, sure, but mostly to you, the person making some art. The Stooges didn’t ask you to “do them a favor” and lose your shit to “Funhouse.” No one ever tossed on D’Angelo’s “Voodoo” as a “favor” to D’Angelo. They put it on because they were going to make the moves on a special someone. John and Alice Coltrane didn't need someone to do them a “favor” when they set out to touch the face of God through their art.
Don’t sell yourself short. Don’t treat your art like something that requires a “favor” to be noticed. That’s gross. Have stupid, ridiculous, probably-unfounded-or-justified belief in what you do. If you don’t have that feeling in your gut about your songs, tear them down and start over. If your art can be deterred by someone sending you an email that says “no thanks, not my thing,” your art is lacking. It’s not that person’s job to like your songs. It’s your job.

Do: Have fun. It’s music, you know?

So there’s a few do’s and don’ts. Feel free to disregard any one of these entirely, dear reader, or change a “do” to a “don’t.” They’re entirely subjective, and I will most likely change my mind about some of them/all of them later. Except that thing about “eargasms.” I’ll never change my mind about that.

Troy Farah, New Times

My biggest pet peeve is all the hipster fools calling this thing in Phoenix a "scene." All we are is a bunch of young adults that enjoy music. It's not a movement -- it's a bunch of the same people who grew up together or played in bands together or are neighbors or screwed each other or owe someone a favor or have enough money from daddy to afford a turntable or whatever. It's all very Möbius and that's not a bad thing. In fact, it's better to realize that being part of a "scene" is the opposite of cool. In a scene, you have cliques and a certain standard to appeal to. My favorite artists are the ones that work hard at their output, don't prescribe to the self-serving identity of the rest of the city and don't take this whole "Phoenix is gonna be the next coolest city" thing seriously. The people that show love and support to their neighbors without having to draw lines in the sand or identify with something or label something -- those are the people that matter to me.

Oh, and my biggest pet peeve in terms of writing about it is when people think I should write about their band just because I know them. It's a little more complicated than that, buddy.

Us again... Um, YabYum
Well,  hopefully that clears some things up and offers everyone a little insight into the realm of press letters. Thank you again to everyone who took some time out of their busy music-writing schedule to send us their input. And, of course, if you're a musician looking to submit your album, send it to us here: yymeditors@gmail.com. Just please, please don't put "MAJOR ARTIST" in the subject line or I won't read it. 

Images Source

Jumat, 28 Desember 2012

Band lokal favorit 2012

Kalau beberapa orang membuat best of 2012nya dengan yang keren-keren gw pengen buat list band lokal favorit gw tahun ini secara subyektif. Beberapa band yang gw suka di tahun ini entah karena denger cdnya, browsing di internet atau nonton livenya adalah:

Apabila ada orang Indonesia yang pita suaranya dicangkokan sebagian suara Morrissey dan berkolaborasi dengan 3 orang lagi di dalam band indie rock akan menghasilkan band ini. Baru saja merilis CD pada akhir tahun 2012 ini.

Anak pak Rusman yang lagu-lagunya terpengaruh sondre Lerche dan Libertines. Tidak pernah manggung dan bahkan tidak bisa dihubungi setelah lagunya gw bantu rilis secara free download. Sepertinya sang musisi telah berganti nomor telepon,namun hal ini gak mengurangi respek gw terhadap lagu-lagu dari si Mr one man project ini.

Langsung terpikirkan musik ala Jose Gonzales dan keadaan yang kosong serta gloomy kalau mendengarkan mereka. Belum pernah lihat livenya sih.

Karena sepanggung sama mereka gw jadi tahu band ini dimana ternyata manajernya adalah temen juga. Musik yang agak shoegaze dengan beberapa part menarik yang mengajak kita bersing-along.

Menonton mereka main di demajors sangat seru musiknya. Musik yang  bagi gw pribadi terpengaruh radiohead dengan kebisingan gitar ala Greenwood, tapi di demo dalam soundcloud ini musiknya berbeda dengan live yang gw tonton. Penasaran melihat albumnya akan seperti apa. 

Dengarkan saja musik mereka dan berdansa kecil menikmati groove yang menyenangkan. Salah satu band yang gw pasti beli CDnya di tahun yang baru nanti

Tidak dapat dipungkiri kalau mereka terinfluence oleh Mew, band yang berasal dari Kaltim dan Jogja  ini bagi gw adalah salah satu musik ok yang tidak terdengar di zona ibukota.

8. Auman
Harimau sumatera yang mengaum di skema metal ibukota dengan musik yang keren. Single mereka WKGG dan "City of ghost" sering mondar-mandir dalam mp3player gw untuk$ menemani dalam perjalanan. Setelah menonton aksi mereka di soundrenaline gw semakin yakin ini adalah salah satu band yang ditunggu CDnya di tahun yang baru nanti.

Duo ukulele dari jogja yang musiknya terpengaruh indie pop ini musiknya enak didenger di pagi hari sebelum berangkat berkegiatan. Musisi lain yang akan merilis CD lagi dalam waktu dekat.

Senin, 19 Desember 2011

Teknik Penjualan CD Gerai Restoran Cepat Saji

Di sabtu kemarin gw sedang makan dengan keluarga gw di suatu gerai Restoran cepat saji yang sering menjual CD artis-artis, ada kejadian yang cukup aneh menurut gw. Sewaktu memesan makanan di sana tanpa paket gw mendapatkan harga seratus ribu sekian. Tiba-tiba pramusaji menawarkan ke Gw "mas beli paket saja ya. Lebih murah beberapa ribu dan dapat CD juga the best of (solois artis wanita).". Mendengar pertanyaan itu gw sempat berpikir juga tapi akhirnya mengiyakan statement si mba pramusaji.

Berawal dari kejadian ini membuat gw berpikir, oooo jadi begini cara artis2 KFC seperti IDP, AM menjual CDnya di gerai restoran cepat saji itu, pantes saja bisa mencapai jumlah yang menurut gw mustahil di era bajak-membajak digital ini. Misteri penjualan CD itu pun pelan2 sudah gw ketahui, soalnya dapat rumor kalau yang beli itu kadang orang-orang dari manajemennya juga sehingga kuantitas poenjualan terlihat melonjak. Apakah ada yang menemukan hal janggal lainnya dari penjualan CD di restoran cepat saji ini??

Sabtu, 17 Desember 2011

Where are we now? Special thanks to my Friend

Yes where are we now??????
Itulah pemikiran yang ada hari ini. Awal perjalanan manggung Protocol Afro bermula 1 tahun lalu 17 Desember 2011 perjalanan ini dimulai. Sebelum tanggal tersebut gw meminta tolong salah seorang teman saya yaitu Diana Rikasari untuk membuat artwork yang bisa dijadikan cover single Protocol Afro. Dia membuat satu artwork yang keren menurut gw


Setelah artwork ini jadi, gw sempat melihat Diana mengadakan acara bersama teman-teman bloggernya di mazee (FX). Gw bertanya kepada Die bisa gak Protocol Afro ikut main? Dia bilang Ok bisa diatur lah may, so akhirnya pecah telor juga nih Protocol Afro :).

Kegilaan awal berlangsung pada 15 Agustus 2011 di Global radio, untuk mempromosikan acara Fashion blogger ini pengisi acara dipanggil untuk ikut interview dan akustikan di Radio. Pada hari H ternyata anak2 Protocol Afro sedang sibuk dan cuma gw saja yang ada waktu. Gw berpikir vokalis gw bisa ikut so gw datang dengan membawa gitar, sayang pada akhirnya vokalis gw tidak ikut karena mendapat job dadakan dari tempat kerjanya. Kegilaan pun dimulai, gw ditodong akustikan padahal gw bukan vokalis. Ya nyanyi lah gw on air sejakarta dengan keringat dingin dan nada dasar C Minder....

Mengenai apa yang gw alamin sewaktu manggung pertama bisa dibaca di Tumblr gw (Blog yang lama). The point of my blog post today is:

Dalam hidup semuanya mengalir seperti bola salju, mulailah segala sesuatu dengan hal kecil it will roll bigger and bigger.

Gw berkata begitu karena semua yang gw alami dalam membangun Protocol Afro dimulai dari hal kecil dan semuanya akan membesar dengan sendirinya baik disadari maupun tidak. Siapa yang berpikir dari manggung akustikan di acara fashion blogger berujung ke International gigs dan kemarin Protocol Afro baru saja double manggung di TV Nasional maupun acara kampus (pertama kali buat Protocol Afro) dimulai dari hal kecil yang gw anggap penting. Gw gak pernah peduli dengan pemikiran orang mengenai apa yang gw pikir dan alami, gw cuma fokus saja dengan hal itu dan tujuan akhirnya. Last but not least

Gw mewakili Protocol Afro benar-benar berterima kasih kepada teman kami Diana Rikasari yang membantu kami memulai perjalanan yang menarik ini.Thanks a lot karena bantuan itu adalah awal dari peningkatan kepercayaan diri anak-anak Protocol Afro. I hope I wear Up nantinya akan menjadi brand yang besar dan bisnisnya yang lain pun sukses :)




Our First live Gigs with Music (Dance with me)

Rabu, 16 November 2011

Protocol Afro in my perspective

Siapa bilang penolakan itu harus berakhir dengan kekecewaan? 



Well itulah hal yang gw rasakan setelah menjalani semua hal di band ini. Pada tahun 2007 gw mengumpulkan beberapa teman gw untuk bermusik membawakan lagu arctic monkeys. Giano adalah rekan pertama yang gw ajak, teman baik saya sejak SMP dan hampir ada di setiap band gw. Orang kedua yang diajak adalah Kristian seorang drummer yang gw kenal sebagai pacar dari sahabatnya mantan saya. Nelson teman band2an saya di band yang bernama the bends membawakan lagu2 radiohead. Last but not least Ditto teman saya sejak SMA yang dulu dikenal karena membawakan lagu2 oasis secara fasih, sejujurnya gak pernah lihat langsung sih tapi gw percaya akan kemampuannya dan speaking englishnya yang sempurna karena masa kecilnya dilalui di negeri paman sam.  Pada tahun 2007 kami mengikuti audisi Kulturfest yaitu acara seni anak sastra jerman UI. Pada awalnya kita latihan membawakan lagu Fake tales of San Fransisco dan when the sun goes down. Kami memilih menggunakan lagu kedua untuk mengikuti audisi. Pada akhirnya hasilnya *jreng-jreng* gagal -_-. Yah Kami sudah melakukan yang terbaik dan belum cukup. Kegagalan itu memacu gw secara pribadi bahwa mungkin kita kurang berbakat membawakan lagu cover song waktunya kita membawakan lagu sendiri. 

Sejak saat itu Protocol Afro pun semakin giat berlatih dan mencoba membawakan lagu2 sendiri. Gw masih ingat lagu pertama yang kami bikin judulnya alcoholic dan waiting. Sewaktu masih berproses menyelesaikan lagu terdapat kabar yang kurang menyenangkan bagi gw, gitaris kami Giano akan bekerja di Palembang. Sebagai salah satu otak yang paling kreatif di band dalam song writing, tentunya latihan tanpa giano akan mengurangi kreativitas tetapi kami masih berusaha dan berhasil membuat aransemen 1 lagu lagi yaitu "Bomb/why?" 

Setelah beberapa bulan akhirnya Giano pulang kembali ke Jakarta dan kami kembali bisa berlatih normal (latihan tetap dengan jadwal yang awut2an, minimal sebulan sekali). Pada masa ini kami mulai merekam beberapa lagu yaitu Maling dan Radio dan mulai memixing lagu2 ini di teman kaskus saya yaitu Danang. 

Pada tahun 2009 akhir saya mendapat kabar yang menyenangkan tetapi juga tidak mengenakkan karena saya diterima bekerja di BUMN Pupuk di Palembang. Pekerjaan BUMN adalah impian banyak orang di Indonesia tetapi di sisi lain Gw tahu gw butuh musik sebagai salah satu faktor yang penting di hidup gw. Pada september 2009 pun gw berangkat ke Palembang dan lucunya pada hari gw berangkat Ditto sms gw dan bilang May lagu Radio lagi on air nih di Trax FM, sms singkat yang membuat gw tersenyum simpul agak penasaran saat meninggalkan Jakarta. 

Selama bekerja di Palembang gw sering pulang ke Jakarta dan setiap pulang gw pasti memaksakan untuk latihan ngeband dulu sampai pernah orang rumah agak sebal karena gw pernah dari airport langsung ke studio dulu baru pulang tengah malam ke rumah. Yah kadang kecintaan akan sesuatu bisa membuat kita jadi orang gila hehehe. The brighstide dari selama bekerja di Palembang gw sangat aktif mempromosikan Protocol Afro di Internet sampai2 kita pernah diputar di salah satu radio indie brisbane yaitu traxx radio dan direview di salah satu website Indie rock perancis.Sejak di Palembang gw juga sudah mengintip suatu festival di Singapore yang bernama Baybeats karena di festival ini band indie dari asia sering berpartisipasi bermain disana.Ketiadaan teman ngeband yang sevisi dan seinfluence selama di Palembang membuat gw gagal menemukan "penahan" gw di Palembang.  Puncak keraguan gw bekerja di Palembang terjadi saat bulan juli 2010 Wahyu Nugroho a.k.a Acum Bangkutaman menelpon dan mengajak Protocol Afro untuk berpartisipasi di Traxound yaitu album kompilasi yang berisi band-band indie tanah air terpilih. Hal ini membuat gw kaget pada achievement band ini, padahal gw cuma menganggap seru2an aja saat mempromosikan Protocol Afro. Ternyata kami bisa dapat hal2 yang luar biasa bahkan di saat kami belum pernah manggung. Meskipun gw tahu Protocol afro kemungkinan besar cuma akan jadi side job gw saja tetapi I know l love this band and i want to give my best buat side job gw. Pada akhirnya bulan september 2010 gw mengajukan resign dan i said hello Jakarta sekali lagi and im back for good :). 

Pulang ke Jakarta belum ada kerjaan tetap tapi musik masih jadi salah satu energi terbesar gw dalam beraktifitas. Kegiatan-kegiatan tergila yang pernah gw lakukan karena musik salah satunya bernyanyi sendirian on air di sebuah radio karena band gw mendapat tawaran interview mendadak di sebuah radio. Karena terlalu mendadak, anak2 tidak ada yang confirm dan gw sudah datang sendiri di Radio tersebut. Alhasil gw ditodong bernyanyi secara on air, nekat memang tapi yah sudahlah pengalaman gila ini memang tak bisa dibeli.. Pengalaman radio interview ini adalah radio interview pertama Protocol Afro menjelang gigs pertama kami. Gigs pertama Protocol Afro kami dapat dari teman kami Fashion blogger merangkap businesswoman Diana Rikasari. Dia pernah merancang artwork single kami dan akhirnya membantu kami mendapatkan gigs pertama kami di FX yang berlangsung secara akustik. Gigs pertama berjalan "rusuh" karena gitaris yang datang cuma satu, sementara gitaris yang satu terjebak kemacetan. Meskipun begitu performance kami tetap berjalan baik dan tidak mengecewakan.  

Setelah gigs pertama gw mengikuti acara2 seminar musik indie sambil mencari network baru. Kegiatan ini mengantarkan gw mendapatkan gigs di acara Mugall 2011. Well panggung kedua kami sudah bisa satu acara dengan Leonardo, santa monica, Pure Saturday, Gugun blues shelter sudah menjadi kebanggaan bagi kami :).   

Well the rest of it is mistery, and I hope this side job could make a great history :). Siapa yang pernah berpikir kenekatan gw untuk "berdarah-darah" mempertahankan band ini yang menurut orang-orang mau ngapain juga sih dipertahanin ternyata bisa membawa Kami keluar negeri di manggung kami yang keempat? Review kami di manggung tersebut ada di sini 




Buat gw pribadi pertolongan Tuhan buat gw selalu datang tepat waktu, kadang2 mungkin orang akan bilang "Ngapain lo pertahanin orang2 yang gak punya komitmen?" atau "Sudah 3 Tahun punya band gak pernah manggung?". In the end kalaupun gw lagi emosi atau muak dengan keadaan yang gak menguntungkan yah gw yakin Tuhan lah yang nguatin gw untuk bertahan dalam keadaan itu karena Mayo yang sebenarnya gak mungkin betah kaya gitu. 


If you feel God spoken to you and He said believe in it, just keep the faith. You know when the time has come, You will be the most happiest person in the world because God is giving the right advice for you to achieve your Dreams.




Buat gw ada 3 hal yang menjadi inti perjalanan ini:


Impossible Is Nothing
Gal 6:7 For whatsoever a man soweth, that shall he also reap.
Heb 11:1 Now Faith is the substance of things hoped for, the evidence of things not seen.


PS: Gw sudah pernah bilang ke Giano waktu SMA dan lagi Maen WE: "No,someday kita akan manggung di luar negeri." dan dijawab sama giano dengan muka bingung, Gw percaya akan hal itu dan mengimani hal tersebut. Meskipun berliku-liku dan butuh 10 Tahun akirnya Kita bisa :)

Jumat, 30 September 2011

Music is my breakfast - Pengalaman menonton San Fransisco Outside Lands 2011

Music is my breakfast

Gw tahu ini sudah sangat telat, sudah 2 bulan sejak outside lands berlangsung, tapi gw Cuma mau share pengalaman apa yang gw dapat dari travelling gila gw mengunjungi outside lands yang dilakukan H-1 sewaktu gw berada di Los angeles.

Keputusan jalan-jalan menuju San Fransisco baru diambil pada hari Jumat pagi sewaktu gw lagi berpikir apakah akan tetap stay di LA sampai hari minggu, atau jalan-jalan spontanitas saja ke SF. Berangkat menuju San Fransisco dilakukan dengan menumpang temannya adik gw: Rudolvo (anak muda batak asal depok yang memang bersekolah di LA) yang memang niat mau jalan-jalan ke San Fransisco pada hari Sabtu subuh (tepatnya jam 3 pagi. Tiket pesawat pulang dari San Fransiscopun baru dipesan pada jam 2.30 subuh (dasar edan :p)  Setelah perjalanan cukup panjang dan melelahkan akhirnya gw pun beristirahat di rumah teman RUdolvo dan bersiap menuju Outside Lands!

San Fransisco Outside Lands adalah festival musik tahunan yang diselenggarakan di Golden Gate park San Fransisco sejak 2008. Pada tahun ini mereka mengundang MGMT, Toro Y Moi, Phish, Muse, Arctic Monkeys, Ok Go dan beberapa band besar Lainnya. Festival Outside lands diselenggarakan pada tanggal 12-14 Agustus 2011.

Pada kesempatan ini saya hanya dapat menyaksikan Konser pada hari pertama terutama Toro Y Moi dan MGMT. Keterbatasan waktu membuat saya hanya dapat mengunjungi 2 band ini karena setelah itu saya juga mampir mengikuti antrian untuk membeli merchandise :p

Setelah didrop di pinggiran taman oleh teman dan berjalan kaki 10 menit masuk ke dalam taman,saya jadi teringat ojek yang suka menemani jika saya menonton Java Rocking Land. masuk ke dalam Taman saya disambut the original matters di big stage yg memainkan komposisi musik jazz and blues. Tidak menunggu lama saya langsung berjalan ke arah panggung toro Y Moi






Toro Y Moi memainkan lagu-lagu yang ada di album pertama mereka. Meskipun gw tidak terlalu hafal dengan lagu-lagunya tapi lagunya yang mudah dinikmati. Gw pun benar2 menunggu mereka memainkan Still Sound salah satu lagu Anthemic mereka. Penonton terlihat menikmati dan ikut berdansa mengikuti irama upbeat yang mereka hasilkan. Setelah menyaksikan Toro Y Moi gw pun berkeliling sejenak melihat lokasi konser dan menuju Main Stage dimana MGMT bermain. 










Gw hadir di pertengahan setlist dimana Mereka memainkan electric feel. Penonton terlihat santai berbeda dengan penonton yang menyaksikan Toro Y Moi, mereka lebih rileks dan seperti terbawa lagu2 MGMT yang lebih "High" dimana banyak penonton menikmati musik mereka dengan membakar "rokok jamaika" untuk menghangatkan tubuh. Lagu Congratulations pun dimainkan sebagai lagu terakhir menutup penampilan mereka.



Setelah berakhirnya performance MGMT gw tidak mencari stage tetapi berburu Merchandise di stand merchandise, dan kunjungan saya ke San Fransisco ditutup dengan menyaksikan The Limousine di Solar Stage. The Limousine adalah duet electronik-vocalist yang berasal dari San Fransisco Bay Area.  Yang membuat saya berkeinginan menonton di panggung ini adalah karena panggung dan lighting ini semuanya menggunakan tenaga solar, hal yang belum pernah gw temui di negara Kita :)





Setelah the limousine gw pun bergegas keluar dari taman Golden Bridge park karena harus mengejar pesawat kembali Ke LA jam 9malamnya sehingga Saya tidak dapat menyaksikan band klasik Phish tapi saya hanya bisa memfoto sekitar stage pada saat mereka perform. Dari kunjungan kilat (tidak sampai 24 jam di San Fransisco) ke konser ini ada 2 hal yang saya kagumi yaitu ketepatan waktu, ketertiban penonton dan Kebersihan area. Meskipun dilakukan di public park penonton cukup tertib dan bisa membuat venue bersih, sangat menyenangkan bagi gw pribadi dan ini belum di Glastonburry tempat yang sangat ingin gw datangi :).